







Semua Umur di Bawah Mikroskop
ARIEL DAN RAJA LANGIT
Pemain: Sulton Max, Ariel Tatum, Indy Barendz, Cornelia Agatha
Sutradara: Harry Dagoe Suharyadi
Produksi: Gerilya Film Productions, 2005
KAUM kaya dan gunung sampah. Dua dunia ini jelas sangat jarang bersinggungan. Tapi, dalam film Ariel dan Raja Langit, gunung sampah raksasa di pusat pembuangan muncul dalam gambar yang tak dikemas indah dan menjadi tempat dua anak dari keluarga kaya berjuang memulihkan "nama baik" mereka. Dua anak itu harus mengaduk-aduk sampah untuk menemukan benda yang mereka cari.
Sampah adalah contoh paling gamblang dari sengkarutnya pengelolaan tata hidup negeri ini. Bahkan, boleh jadi, munculnya gunung-gunung sampah yang merusak lingkungan di sudut-sudut tak terlihat negeri ini adalah wujud dari kasus gagal negara di republik ini. Tapi jangan keliru, Ariel dan Raja Langit bukanlah film yang bicara tentang hal-hal berat, meski ia lahir dari tangan Harry Dagoe Suharyadi.
Harry adalah sineas berbakat. Film layar lebar Harry Dagoe sebelumnya, Pachinko and Everyone's Happy (2001), bisa jadi merupakan film paling jujur yang pernah dilahirkan sutradara Indonesia. Film berbahasa Jepang ini dengan cerdas berhasil muncul sebagai studi sosiologis yang tajam mengenai kesepian, ketegangan antargenerasi, dan absurdnya pencarian nilai masyarakat Jepang mutakhir.
Tapi, lewat Ariel dan Raja Langit, Harry dengan rendah hati mengaku sama sekali tak punya pretensi memainkan semiotika simbol. "Ah, gunung sampah itu muncul cuma karena tuntutan logika cerita," katanya sembari tertawa, ketika bercakap santai di kantornya. Ariel dan Raja Langit, menurut Harry, adalah film musikal-petualangan untuk semua umur, yang ia niatkan semata untuk menghibur.
Film ini memang berkisah tentang Galang dan Ariel, dua siswa SD Cahaya Hati yang selalu bersaing dalam pelajaran dan pergaulan. Mereka terpilih menjadi pemeran utama dalam operet sekolah. Tapi, satu ketika, persaingan membawa mereka pada petualangan bersama menghadapi Mata Api, penjahat korban ramuan rahasia, yang punya hobi menculik anak-anak.
Harry tentu boleh mengklaim bahwa Ariel pada akhirnya cuma film semua umur. Tapi jejak karya sebelumnya pasti membuat Ariel bakal diletakkan di bawah mikroskop. Bukankah ketika Robert Rodriguez memutuskan menggarap film anak-anak Spy Kids, semua orang menanti film macam apakah yang lahir dari tangan sutradara El Mariachi ini?
Rodriguez beruntung. Ia lulus ujian. Spy Kids tak hanya sukses di pasar, melainkan juga mampu "keluar" dari sekadar film anak-anak dan berdiri sejajar dengan film mainstream. Lewat Spy Kids yang penuh imajinasi, bersemangat, dan berhias dialog menggigit, Rodriguez meledek Indiana Jones dan film-film espionase yang kala itu tengah laris.
Tak cuma itu, Rodriguez juga melakukan penjungkirbalikan pada stereotipe Hollywood: seluruh peran hero diserahkannya pada karakter Hispanik! Ia juga mengejutkan semua orang, karena kekerasan yang muncul dalam El Mariachi dan From Dusk Till Down dalam Spy Kids sama sekali tak tampak jejaknya. Bagaimana dengan Harry Dagoe dan Ariel?
Film ini menyenangkan ditonton. Ada nuansa petualangan bak roller coaster. Ariel juga penuh lagu yang, besar kemungkinan, bakal ikut didendangkan anak-anak dengan gembira (meski sesekali terasa berpanjang-panjang). Indy Barendz sebagai Bu Sinaga mampu memancing tawa, seperti juga peran duet badung Mika dan Romi yang berkali-kali mencuri perhatian.
Gaya ekstra "jujur" Harry juga masih muncul (bukankah ajaib melihat Metromini butut muncul di tengah-tengah perumahan bak negeri dongeng?). Meski sesekali, "kejujuran" itu terasa berlebihan, terutama pada penggambaran kekerasan ("Ah, anak Indonesia terlalu banyak dielus. Saya ingin mereka sadar betapa riilnya akibat dari setiap kesalahan," kata Harry).
Toh, harus diakui, sulit sekali melacak adanya terobosan orisinal dalam Ariel. Bahkan film ini sulit membuat jarak dari serial TV anak-anak Ratu Malu dan Jendral Kancil yang juga digarap Harry (Serial ini mendapat gelar sinetron anak-anak terbaik Festival Film Bandung 2004, dan Harry memperoleh penghargaan sebagai penulis skenario terpuji pada festival yang sama).
Apa pun, Harry sedang membuat pertaruhan baru. Ariel dan Raja Langit yang menelan biaya produksi Rp 2,4 milyar ini telah dilempar ke pasar. "Setelah ini saya, ya, dagang film ini," katanya. Okelah. Tapi, setelah selesai bedagang nanti, mudah-mudahan Harry tahu, film Indonesia masih memerlukan Pachinko lain lahir dari tangannya.
Krisnadi Yullawan
Majalah Gatra, 1 Agustus 2005
Senin, 01 Agustus 2005. BUDAYA
“SINAR HARAPAN”
"Ariel dan Raja Langit"
Dongeng Bijak Kanak-kanak
DARI manakah nilai-nilai kebijakan semestinya bermula? Dari masa kanak-kanak jawabnya. Demikianlah yang diyakini oleh salah seorang sutradara muda Tanah Air, Harry Dagoe Suharyadi. Lewat film drama musikal anak-anak yang penuh dengan nasihat kebijakan dan kebajikan berjudul Ariel dan Raja Langit, Harry tampaknya memang mengemban misi mulia. "Saya hanya ingin menyajikan kepada anak-anak bagaimana semestinya berpikir dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral," ujar sutradara yang film pendeknya, Happy Ending, pernah terpilih sebagai Outstanding Short Film pada The 1st International Pusan Film Festival Korea 1996. Dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan sejak dini, Harry berharap film berdurasi 111 menit yang ber-genre drama musikal yang dipadukan dengan sedikit horor suspense ini dapat mengena sasaran. Film yang diperkuat Cornelia Agatha (Mama Ariel), Indy Barenz (Ibu Naga), Donna Harun (Mama Galang), dan Dik Doank sebaga cameo (peran selintas) ini, secara penceritaan berjalan secara hitam putih.Hal ini menjadi maklum. Digarap Sendiri. Dengan mengemban semangat kebijakan akan mengalahkan kebatilan sebagai rumusan klasik dan klise bagi dunia anak, Ariel dan Raja Langit tetap menyimpan "sesuatu". "Sesuatu itu yang saya sajikan itu tentang value (nilai) penting rasa tanggung jawab, setia kawan, tolong menolong, toleransi, serta pentingnya rajin belajar sejak dini," imbuh sutradara Pachinko and Everyone's Happy ini. Film yang keseluruhan penggarapannya mulai dari skenario, kameraman, editing, directing, hingga pembiayaannya diproduseri sendiri oleh Harry ini, menggunakan empat setting penting. "Tempat pembuangan sampah Bantar Gebang di Bekasi, Bandung, dan Pulau Kotok di Kepulauan Seribu". Ada beberapa hal yang membuat film ini menarik bagi anak-anak selain tuntunan pen-tingnya nilai-nilai kebajikan. Akting para pelakon anaknya berjalan dengan kewajaran, naturan, tanpa terlihat dibuat-buat. Sehingga dengan demikian seperti melihat anak-anak dengan dunianya: kenakalan, keiseng-an, konflik, dan kelucuannya. (Benny Benke-45)
MENCARI PELANGI
| ||
Sutradara
|
:
|
Harry Dagoe Suharyadi
|
Skenario
|
:
|
Rayya Makarim
|
Ide Cerita
|
:
|
Rayya Makarim dan Shanty Harmayn
|
Pemain
|
:
|
Sena Utoyo, Marsha, Titiek Dj, Oppie, Djodie
|
Stasiun
|
:
|
Anteve
|
Produksi
|
:
|
PT Iguana Imaji Media
|
REVIEW FILM "CINTA STAMAN"
( LOVE POTPOURRI )
DIRECTOR: HARRY DAGOE SUHARYADI.
SUMBER MAJALAH TEMPO
Delapan Cerita tentang Cinta Serangkaian cerita pendek dalam satu film panjang. Inilah cara Harry Dagoe Suharyadi bertutur tentang cinta dalam hidup yang suram. Unik dan menarik. Cinta Setaman Sutradara dan skenario: Harry Dagoe Suharyadi Pemain: Nicholas Saputra, Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, Surya Saputra, Marsha Timothy, Ria Irawan, Richard Oh, Atiqah Hasiholan Produksi: Imajika Films Sang ibu menatap ke depan dengan sepasang mata yang sudah tua dan hati yang patah. Sang suami tengah berbincang dengan menantu perempuan yang akan diceraikan anak lelaki mereka. ”Mereka memutuskan berpisah,” kata sang ayah (Rudi Wowor) dengan nada pahit. ”Bagaimana dengan Rio?” tanya sang ibu, lebih seperti melenguh, khawatir dan hati pecah menghadapi kenyataan. ”Rio? Dia yang mau menceraikan istrinya…,” kata sang ayah dengan geram. Dia bergumam di antara rasa pahit, ”Saya tak tahu apa Rio memberi tahu penyebabnya….” Sang ibu (diperankan dengan baik oleh Jajang C. Noer) tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya runtuh. Tapi Rio (Alex Abbad) adalah anak lelaki satu-satunya. Dan bukan perceraian ini saja yang meruntuhkan hatinya… ada kenyataan lain tentang anak lelakinya, sebuah kenyataan yang tak mudah ditelan orang tua mana pun. Betapapun liberal mereka…. Ini adalah salah satu dari delapan jalinan cerita dalam film Cinta Setaman karya Harry Dagoe Suharyadi. Delapan cerita itu seperti kumpulan cerita pendek yang berkaitan—meski tak selalu secara ketat—antara satu dan yang lain. Dimulai dari kisah seorang anak lelaki yang sehari-hari banting tulang sebagai buruh kecil yang selalu bekerja keras mengumpulkan beberapa lembar ribuan untuk membeli sepasang sepatu roda. Namun, suatu hari, mata si anak lelaki yang sudah menanjak remaja itu terpaku pada seorang remaja putri jelita (Nadia Vella) yang rajin berolahraga di kawasan kampungnya. Ketika akhirnya uangnya sudah terkumpul, sang anak itu, di antara peluh yang berleleran dan gosong matahari kemudian bingung memilih: membeli sepatu roda atau boneka Barbie (untuk sang pujaan hati). Dari sini, kita memasuki cerita pendek berikutnya, karena sang pujaan hati juga memiliki cerita sendiri. Remaja cantik itu ternyata anak seorang pelacur (diperankan penuh sinar oleh Djenar Maesa Ayu). Saat sang remaja cantik itu berkutat dengan buku PMP dan berfantasi tentang guru di sekolahnya yang santun (Lukman Sardi), dia bisa mendengar suara ibunya mendesah-desah meladeni pelanggan. Dan gaya sang ibu itulah yang kemudian dianggap sebagai strategi jitu untuk menangkap hati sang guru baik yang diinginkannya. Meski format film ini bukan sesuatu yang baru, Harry menyajikan sebuah format yang unik. Film Kuldesak (karya kuartet Mira Lesmana, Riri Riza, Rizal Manthovani, dan Nan T. Achnas) serta Berbagi Suami (karya Nia Di Nata) adalah film-film dengan empat segmen yang berbeda. Namun dua judul sebelumnya masih memberikan tema yang sama dalam setiap segmen, sedangkan kedelapan cerita dalam film Cinta Setaman ini berdiri sendiri, meski ada beberapa karakter yang saling berseliweran antara satu cerita ke cerita lainnya. Kedelapan cerita itu seperti sebuah momen dalam hidup setiap tokohnya, persis seperti konsep sebuah cerita pendek. Tak perlu banyak penjelasan latar belakang sang tokoh; tak perlu penjelasan sebab-akibat dari karakter; karena peristiwa dan dialog sudah bisa menjelaskan kisah-kisah pendek itu. Yang menarik dari film ini terutama adalah konsep bertutur, sebuah penuturan cerita pendek; penuturan sebuah momen dalam kehidupan seseorang. Tapi penuturan ini tak selalu konsisten. Kisah si anak kecil yang menginginkan sepatu roda atau kisah Nicholas Saputra sebagai penjual DVD bajakan yang terus-menerus berseteru dengan adiknya adalah konsep penuturan satu momen. Tapi cerita tentang pasangan Jajang C. Noer dengan putranya (Alex Abbad) lebih memiliki perkembangan cerita yang kompleks. Melibatkan masa lalu; perkembangan plot dan bahkan klimaks. Artinya, bagian ini bahkan bisa menjadi satu cerita panjang tersendiri. Sutradara Harry Dagoe berani memasang pemain-pemain terkemuka di luar peran mereka yang lazim kita saksikan. Nicholas Saputra berperan sebagai penjual DVD bajakan yang temperamental; Julia Perez berperan sebagai cewek kampung pemilik warung (dia tampil tanpa polesan apa pun hingga sulit kita mengenalnya sebagai Julia Perez); Indi Barends tampil sebagai pengasuh yang doyan bergunjing tentang kehidupan seks nyonya lain. Pendeknya, penampilan para pemain bersinar. Kedelapan kisah itu tentu saja memiliki bobot yang berbeda. Ada yang menyentuh; ada yang lucu. Yang ingin komikal pun ada, seperti segmen pasangan Surya Saputra dan Davina yang berkisah tentang seorang sutradara televisi yang gagal dan istrinya yang bawel. Harry jelas ingin membuat komedi satirikal tentang industri televisi yang dungu. Ide brilian, meski eksekusinya masih kurang rapi. Segmen tentang seorang sopir yang mendapat hadiah ikan arwana dari majikannya sebetulnya menarik. Sang sopir (diperankan oleh sang sutradara sendiri) terlibat debat (yang terlalu panjang) dengan sang istri (Ria Irawan) tentang sang ikan. Akhir cerita sungguh komikal. Jika saja acara debat suami-istri itu dipotong sedikit, inilah segmen yang paling sempurna. Yang paling merobek hati tentu saja segmen pasangan Jajang C. Noer dan Rudi Wowor dengan putra Alex Abbad. Ini segmen yang tidak banyak dialog dan bertutur melalui peristiwa. Seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai penjual kain; dan seorang anak yang mencoba mengabdi kepada ibunya dengan mengirim uang untuk ongkos naik haji. Bisakah dia menerima uang itu? Penampilan Jajang dan Alex Abbad adalah penyajian terbaik film ini. Tantangan Harry yang utama untuk menjalin delapan cerita ke dalam satu film dengan tema besar cinta adalah bagaimana agar segmen-segmen itu tetap terasa memiliki relevansi. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana caranya agar penyuntingan dari satu cerita ke cerita lain terasa mulus dan rapi. Harus diakui, film ini masih harus melalui penyuntingan yang lebih ketat lagi. Bagian akhir yang menyajikan ocehan dukun obat itu bisa dibuang tanpa persoalan. Film Cinta Setaman membuktikan bahwa di tengah serbuan film komedi toilet dan komedi buah pisang, film yang waras masih bisa dibuat. Di tengah serbuan ratusan film Indonesia dengan judul-judul yang membuat kita garuk kepala, masih ada Harry Dagoe Suharyadi; masih ada Riri Riza yang ”keras kepala” berkukuh melawan ”the big K” (K = komersial), yang diartikan para pemilik production house sebagai pembuatan film dengan biaya rendah dengan cerita yang ”menghibur dan komersial” dan tidak melawan arus. Film Cinta Setaman, dengan segala kepedihan dan kepahitan, bagaimanapun mencoba optimistis. Semua tokohnya, pada akhir cerita, betapapun runtuhnya, betapapun terperosoknya, masih mencoba percaya pada cinta.
Leila S. Chudor
www.youtube.com/cintasetaman
( Klik pada gambar untuk lihat ukuran lebih besar )