ALL ABOUT HARRY DAGOE SUHARYADI. DIRECTOR, ACTOR, WRITER
Sabtu, 26 September 2015
Kamis, 30 Mei 2013
He also completed a dramatic screenplay writing workshop, with instructors from Tiscschool of art, New York, in the early 90s
Harry studied classical guitar. 6 years later, he became a classic guitar player and teacher during the years 1985-1993. also a finalist, guitar player Indonesian festival, organized by Yamaha Indonesia.
During the year also, he Becomes Actor stage, TV, and Movie. And as Movie Actor until now.
years 1984-1986, harry wrote short stories in magazines Indonesia; "Ananda"
In 1987 he became a freelance writer, film critic at 'Film Magazine', Indonesia.
In early 2000, Harry also teaches directing and film making in educational institutions for the film, the film workshops.
***
As Filmmaker, Harry's first short film called "Happy Ending" was named as official selection in many international film festivals such as Toronto, Singapore, Palm Springs, Tampere and received an award as The Outstanding Short Film from 1ST Pusan International Film Festival, South Korean in 1996.
https://www.youtube.com/watch?v=0nkoVR6OQrM
http://www.youtube.com/watch?v=ZxEPfY1o88o
In 2002 Pachinko was invited to an Indonesian film festival in Melbourne, Australia.
In 2006, Harry once again received a scholarship from Japanese government for Film Business and Digital Filmmaking Workshop in Yokohama.
http://www.youtube.com/watch?v=kOd5C5tMEuo&feature=gp-n-y&google_comment_id=z13jilvaiw2mwvxy104cinsgnqrlwb05nzo0k
TV Movies: "Mencari Pelangi" (1998) – director.
Selasa, 22 November 2011
Minggu, 11 Oktober 2009
Sabtu, 10 Oktober 2009
REVIEW FILM "ARIEL & RAJA LANGIT"

Semua Umur di Bawah Mikroskop
ARIEL DAN RAJA LANGIT
Pemain: Sulton Max, Ariel Tatum, Indy Barendz, Cornelia Agatha
Sutradara: Harry Dagoe Suharyadi
Produksi: Gerilya Film Productions, 2005
KAUM kaya dan gunung sampah. Dua dunia ini jelas sangat jarang bersinggungan. Tapi, dalam film Ariel dan Raja Langit, gunung sampah raksasa di pusat pembuangan muncul dalam gambar yang tak dikemas indah dan menjadi tempat dua anak dari keluarga kaya berjuang memulihkan "nama baik" mereka. Dua anak itu harus mengaduk-aduk sampah untuk menemukan benda yang mereka cari.
Sampah adalah contoh paling gamblang dari sengkarutnya pengelolaan tata hidup negeri ini. Bahkan, boleh jadi, munculnya gunung-gunung sampah yang merusak lingkungan di sudut-sudut tak terlihat negeri ini adalah wujud dari kasus gagal negara di republik ini. Tapi jangan keliru, Ariel dan Raja Langit bukanlah film yang bicara tentang hal-hal berat, meski ia lahir dari tangan Harry Dagoe Suharyadi.
Harry adalah sineas berbakat. Film layar lebar Harry Dagoe sebelumnya, Pachinko and Everyone's Happy (2001), bisa jadi merupakan film paling jujur yang pernah dilahirkan sutradara Indonesia. Film berbahasa Jepang ini dengan cerdas berhasil muncul sebagai studi sosiologis yang tajam mengenai kesepian, ketegangan antargenerasi, dan absurdnya pencarian nilai masyarakat Jepang mutakhir.
Tapi, lewat Ariel dan Raja Langit, Harry dengan rendah hati mengaku sama sekali tak punya pretensi memainkan semiotika simbol. "Ah, gunung sampah itu muncul cuma karena tuntutan logika cerita," katanya sembari tertawa, ketika bercakap santai di kantornya. Ariel dan Raja Langit, menurut Harry, adalah film musikal-petualangan untuk semua umur, yang ia niatkan semata untuk menghibur.
Film ini memang berkisah tentang Galang dan Ariel, dua siswa SD Cahaya Hati yang selalu bersaing dalam pelajaran dan pergaulan. Mereka terpilih menjadi pemeran utama dalam operet sekolah. Tapi, satu ketika, persaingan membawa mereka pada petualangan bersama menghadapi Mata Api, penjahat korban ramuan rahasia, yang punya hobi menculik anak-anak.
Harry tentu boleh mengklaim bahwa Ariel pada akhirnya cuma film semua umur. Tapi jejak karya sebelumnya pasti membuat Ariel bakal diletakkan di bawah mikroskop. Bukankah ketika Robert Rodriguez memutuskan menggarap film anak-anak Spy Kids, semua orang menanti film macam apakah yang lahir dari tangan sutradara El Mariachi ini?
Rodriguez beruntung. Ia lulus ujian. Spy Kids tak hanya sukses di pasar, melainkan juga mampu "keluar" dari sekadar film anak-anak dan berdiri sejajar dengan film mainstream. Lewat Spy Kids yang penuh imajinasi, bersemangat, dan berhias dialog menggigit, Rodriguez meledek Indiana Jones dan film-film espionase yang kala itu tengah laris.
Tak cuma itu, Rodriguez juga melakukan penjungkirbalikan pada stereotipe Hollywood: seluruh peran hero diserahkannya pada karakter Hispanik! Ia juga mengejutkan semua orang, karena kekerasan yang muncul dalam El Mariachi dan From Dusk Till Down dalam Spy Kids sama sekali tak tampak jejaknya. Bagaimana dengan Harry Dagoe dan Ariel?
Film ini menyenangkan ditonton. Ada nuansa petualangan bak roller coaster. Ariel juga penuh lagu yang, besar kemungkinan, bakal ikut didendangkan anak-anak dengan gembira (meski sesekali terasa berpanjang-panjang). Indy Barendz sebagai Bu Sinaga mampu memancing tawa, seperti juga peran duet badung Mika dan Romi yang berkali-kali mencuri perhatian.
Gaya ekstra "jujur" Harry juga masih muncul (bukankah ajaib melihat Metromini butut muncul di tengah-tengah perumahan bak negeri dongeng?). Meski sesekali, "kejujuran" itu terasa berlebihan, terutama pada penggambaran kekerasan ("Ah, anak Indonesia terlalu banyak dielus. Saya ingin mereka sadar betapa riilnya akibat dari setiap kesalahan," kata Harry).
Toh, harus diakui, sulit sekali melacak adanya terobosan orisinal dalam Ariel. Bahkan film ini sulit membuat jarak dari serial TV anak-anak Ratu Malu dan Jendral Kancil yang juga digarap Harry (Serial ini mendapat gelar sinetron anak-anak terbaik Festival Film Bandung 2004, dan Harry memperoleh penghargaan sebagai penulis skenario terpuji pada festival yang sama).
Apa pun, Harry sedang membuat pertaruhan baru. Ariel dan Raja Langit yang menelan biaya produksi Rp 2,4 milyar ini telah dilempar ke pasar. "Setelah ini saya, ya, dagang film ini," katanya. Okelah. Tapi, setelah selesai bedagang nanti, mudah-mudahan Harry tahu, film Indonesia masih memerlukan Pachinko lain lahir dari tangannya.
Krisnadi Yullawan
Majalah Gatra, 1 Agustus 2005
Senin, 01 Agustus 2005. BUDAYA
“SINAR HARAPAN”
"Ariel dan Raja Langit"
Dongeng Bijak Kanak-kanak
DARI manakah nilai-nilai kebijakan semestinya bermula? Dari masa kanak-kanak jawabnya. Demikianlah yang diyakini oleh salah seorang sutradara muda Tanah Air, Harry Dagoe Suharyadi. Lewat film drama musikal anak-anak yang penuh dengan nasihat kebijakan dan kebajikan berjudul Ariel dan Raja Langit, Harry tampaknya memang mengemban misi mulia. "Saya hanya ingin menyajikan kepada anak-anak bagaimana semestinya berpikir dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral," ujar sutradara yang film pendeknya, Happy Ending, pernah terpilih sebagai Outstanding Short Film pada The 1st International Pusan Film Festival Korea 1996. Dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan sejak dini, Harry berharap film berdurasi 111 menit yang ber-genre drama musikal yang dipadukan dengan sedikit horor suspense ini dapat mengena sasaran. Film yang diperkuat Cornelia Agatha (Mama Ariel), Indy Barenz (Ibu Naga), Donna Harun (Mama Galang), dan Dik Doank sebaga cameo (peran selintas) ini, secara penceritaan berjalan secara hitam putih.Hal ini menjadi maklum. Digarap Sendiri. Dengan mengemban semangat kebijakan akan mengalahkan kebatilan sebagai rumusan klasik dan klise bagi dunia anak, Ariel dan Raja Langit tetap menyimpan "sesuatu". "Sesuatu itu yang saya sajikan itu tentang value (nilai) penting rasa tanggung jawab, setia kawan, tolong menolong, toleransi, serta pentingnya rajin belajar sejak dini," imbuh sutradara Pachinko and Everyone's Happy ini. Film yang keseluruhan penggarapannya mulai dari skenario, kameraman, editing, directing, hingga pembiayaannya diproduseri sendiri oleh Harry ini, menggunakan empat setting penting. "Tempat pembuangan sampah Bantar Gebang di Bekasi, Bandung, dan Pulau Kotok di Kepulauan Seribu". Ada beberapa hal yang membuat film ini menarik bagi anak-anak selain tuntunan pen-tingnya nilai-nilai kebajikan. Akting para pelakon anaknya berjalan dengan kewajaran, naturan, tanpa terlihat dibuat-buat. Sehingga dengan demikian seperti melihat anak-anak dengan dunianya: kenakalan, keiseng-an, konflik, dan kelucuannya. (Benny Benke-45)
Minggu, 04 Oktober 2009
REVIEW & TRAILER TV MOVIE "MENCARI PELANGI"
http://www.youtube.com/watch?v=ZxEPfY1o88o
MENCARI PELANGI
| ||
Sutradara
|
:
|
Harry Dagoe Suharyadi
|
Skenario
|
:
|
Rayya Makarim
|
Ide Cerita
|
:
|
Rayya Makarim dan Shanty Harmayn
|
Pemain
|
:
|
Sena Utoyo, Marsha, Titiek Dj, Oppie, Djodie
|
Stasiun
|
:
|
Anteve
|
Produksi
|
:
|
PT Iguana Imaji Media
|